
Nama Dycka (Hadi Qayumi), begitu ia ingin disebut, barangkali tak berarti apa-apa buat banyak orang, ia bukan tokoh publik, bukan selebritis, atau orang terkenal, ia hanya seorang remaja biasa. Wafatnya tak diiringi banyak pelawat, dan mungkin tak banyak pula orang berdoa dan berduka karenanya. Tapi ia adalah Dycka, wafatnya bagaimanapun telah meninggalkan ruang kosong dalam hati saya, sebab saya sangat mencintainya, seperti halnya cinta pada saudara kandung sendiri. Saya pernah ditinggal wafat dua saudara kandung yang saya cintai, namun wafatnya Dycka tidak hanya meninggalkan luka dan memaksa saya merenung tentang kematian, tapi juga mengajak berfikir tentang perjalanan da’wah yang mungkin nampak remeh di mata orang, da’wah pada sebuah masjid yang sederhana, untuk orang-orang sederhana. Sebuah awal mula perjalanan da’wah saya.
Ia beranjak dewasa bersama kedewasaan saya, ia adalah salah satu lahan da’wah ketika saya belajar menjalaninya, hingga saat ini, ketika da’wah sudah menyentuh lebih banyak orang dan membahas hal-hal berat dan rumit. Dahulu Dycka adalah tanaman tempat saya sempat mencurahkan cinta dan persahabatan begitu dalam. Cinta dan persahabatan seorang kakak yang melihat bayangan masa lalunya dalam cermin-hidup seorang remaja “nakal” nan lemah berpenyakit asma.
Dycka memang anak dengan setumpuk masalah, yang tak hanya harus bergulat dengan sesak asmanya, ia juga harus bergulat untuk hidup tanpa kasih-sayang seorang ibu kandung. Ia harus menghadapi gejolak remaja seorang diri dan berdekatan dengan banyak bahaya kehidupan. Namun Dycka adalah sosok unik dengan banyak kelebihan, dan itulah mengapa saya dahulu sangat berharap banyak padanya saat mengorganisir adik-adik remaja masjid. Tubuhnya yang ‘kerempeng’ dan bermata sayu sangat kontras dengan pribadinya yang supel, mampu mengorganisir banyak teman sebayanya dengan mudah, meski terbilang nakal namun pribadinya kuat dan jiwanya hidup. Dahulu, jika saya ingin mengumpulkan 15 anak-anak MUFC (Muhajirin Football Club, sebuah klub sepakbola remaja di masjid kami) yang mungkin terkesan ‘liar’, saya cukup mengangkat telpon dan meminta Dycka melakukannya, maka hampir dapat dipastikan sebagian besar anak MUFC terkumpul pada waktunya.
Dycka adalah juga pribadi yang mau ‘belajar’, bahkan saya mengamati sifat ‘ingin tahu’nya sejak usia sekolah dasar. Banyak bertanya diselingi berfikir adalah gayanya yang tak bisa saya lupakan hingga kini. Ia ingin mengetahui terlalu banyak hal untuk usia sebayanya, bermain gitar, mahir komputer, hacking, ngeband, namun juga berhasrat ingin menghafal juz amma, meski tak pernah berhasil.
Ia juga seorang ‘renegade’, pemberontak-kecil, pemberani yang menganggetkan orang yang tak kenal baik dirinya, cerita boykot pada sebuah acara rihlah, mungkin salah satu sifat pemberontaknya. Contoh lainnya ketika Dycka ‘berani’ melakukan aksi “carding” lewat internet, meski aksi ini akhirnya ditinggalkannya karena saya sebut perbuatan“carding” tak ada bedanya dengan “maling”. Ia juga Dycka, yang nekat “mogok” untuk sekolah selama satu tahun.
Pada saat yang sama, ia juga orang yang selalu paling bersemangat untuk i’tikaf menjelang akhir Ramadhan, hasratnya tinggi untuk mengejar laylat al-qadr di malam-malam ganjil dengan tilawah dan shalat malam di masjid, meski lebih banyak diselingi senda-gurau sesamanya. Ketika ditanya kenapa, Dycka hanya menjawab “takut masuk neraka”.
Pada Ramadhan tahun 2004 lalu, karena tak ada lagi kakak ikhwan yang dikenalinya di Masjid, ia menghubungi saya lewat telpon dan menawarkan diri untuk bantu-bantu meramaikan kegiatan Kalam (sebuah organisasi kepemudaan masjid) untuk Ramadhan tanpa diminta. Dycka memang pribadi yang sangat senang membantu, bahkan komputer yang sedang saya pakai untuk menulis “kenangan” ini pun dibeli atas bantuannya, sehingga bisa diperoleh dengan harga lebih murah dari seharusnya.
Meski begitu, rasa ‘ingin-tahu’ yang tinggi itu pulalah Dycka terkesan bengal. Yang jelas ia selalu membuat Pak Soepomo ayahanya, sangat khawatir, hingga sering berpesan dan menitipkannya kepada kami. Membina remaja sepertinya memang butuh seni tersendiri, ‘fiqih’ da’wah yang khusus dan mungkin tak ada dalam “Fiqhud Da’wah” Mustafa Masyhur atau Mohammad Natsir, fiqih da’wah yang hanya bisa kita baca dengan interaksi, perhatian dan kasih sayang. Ia mungkin tak luluh dengan mentoring atau liqo’, namun dengan pengakuan keberadaan dirinya dan menghormatinya sebagai subyek hidup dan bukan obyek yang kita bentuk semata.
Dycka atau orang-orang sepertinya adalah air yang hanya mungkin bisa kita arahkan alurnya, namun tak mungkin membendungnya. Ia ingin memahat sejarahnya sendiri, meniti jalannya. Memaksanya hanya akan mematahkannya dan berbuah ketidakhormatan pada diri kita dan ketidakpatuhan pada kebaikan yang kita hendak tanam. Kita hanya menunjukkan peta, namun merekalah yang menyusuri jalan sebenarnya.
Betapa kita mesti bersabar saat semua perhatian kita berikan, ia tetap saja terbawa arus pergaulan, nongkrong di ujung gang sambil merokok, meski malu-malu. Ia tetap saja berkumpul dengan mereka yang menyebut diri “para junkies” dengan celana tanggung kedodoran dan rambut ala Blink 41.
Ketika berinteraksi dengan Dycka dan adik-adik MUFC lain, saya merasakan ada kebenaran pada puisi Kahlil Gibran, bahwa anakmu bukanlah milikmu, namun ia anak-anak kehidupan.
Your children are not your children. They are the sons and daughters of Life’s longing for itself. They come through you but not from you, And though they are with you, yet they belong not to you. You may give them your love but not your thoughts. For they have their own thoughts. You may house their bodies but not their souls,
Ketika menghadiahkan buku “A Child Call It” beberapa tahun lalu, saya mengharapkan pribadinya agar sekuat Dave Pelzer dalam memaknai derita fisik dan kesedihan batin, sebelum mulai meneladani pribadi Nabi SAW.
Saat kami membina Dycka dan anak-anak remaja MUFC dalam aktivitas remaja masjid seperti: klub bola, ngeliwet bersama, mabit, out-bond training, paket dhuafa, sunduq salam, baksos ke Papandayan, peduli Palestina, rihlah dll, sesungguhnya kami tak mengharapkan terlalu banyak dari mereka, sehingga harus menjadi kader da’wah atau sebutan
“aktivis Islam” yang nampak mentereng, namun betul-betul sekadar menanam benih-benih integritas, kejujuran dan keberanian, agar dapat memaknai hidupnya kelak.
Lama tak jumpa, berita mengagetkan melalui pesan singkat itupun memaksa saya menjadi lelaki cengeng, saya tak kuasa membendung air mata. Dycka menuntaskan perjalanan hidupnya lebih dahulu. Ia wafat begitu muda, Allah memanggilnya melalui penyakit asmanya yang kian parah.
Sejak kepindahannya ke Jl. Muhammad Yunus Pajajaran, kami memang jarang berkomunikasi kecuali lewat telpon dan sms, namun terakhir kali bertemu, dua hari setelah idul Fitri kemarin, atau beberapa hari menjelang wafatnya. Dycka sempat berkunjung bersilaturahim ke rumah sambil mengembalikan buku terakhir yang sempat dipinjamnya : “Muhammad Sebuah Biografi Kritis” karya Karen Armstrong. Almarhum juga meminta maaf atas segala kesalahannya juga mohon do’a karena bercita-cita hendak melanjutkan kuliah di Sastra UNPAD, atau di UI sambil berpamitan jika sekiranya harus kost di Jatinangor atau Jakarta. Saat terakhir kali berbincang, saya merasakan kedewasaan mulai tertanam dalam jiwanya dan benih-benih tanggung jawab terhadap hidup mulai nampak dalam pembicaraanya.
Menurut istri saya kira-kira dua hari setelah kunjungannya, almarhum Dycka menelpon dan bertitip pesan ingin bertemu, namun begitulah maut memutus segala hal yang ingin kita rencanakan. Pertemuan itu tak sempat terlaksana karena Allah lebih dahulu memanggilnya, dan ajal memang selalu menepati janjinya.
Kematian orang-orang terdekat kita dan yang kita cintai selalu saja menoreh perih dalam hati, menyumbat asa tak percaya. Namun sesungguhnya ia adalah nasehat untuk hidup kita, yang sering lupa pada kampung halaman sebenarnya, dan bahwa hari-hari kita terlalu banyak dihabiskan untuk mengejar hal yang sedikit dan sesaat dan tak bermakna banyak. Ketika Al-Ghazali dimintai nasehat, beliau menjawab singkat, bahwa cukuplah al-Quran dan kematian sebagai sebaik-baik nasihat.
Kematian orang-orang terdekat kita dan yang kita cintai, adalah juga nasehat untuk sebanyak mungkin menuliskan cinta dan perbuatan baik pada sebanyak mungkin orang, karena hidup ini memang begitu singkat, sekejap mata, atau bahkan lebih cepat dari itu. Untuk itu bersiaplah bahwa ia bagaimanapun akan mendatangi kita.
Saat berta’ziah ke Jl. Pajajaran, ada kabar kalau suara takbir Dycka terdengar neneknya sebelum ajal ‘tiba-tiba’ menghampirinya pada pukul 10 pagi. Jika benar, semoga saja, takbir ini adalah pekik takbir yang biasa diajarkan kakak dan teteh-nya di masjid saat masa-masa rihlah dulu.
Dycka, kamu adalah cerita indah dalam balutan da’wah kami, terima kasih Allah karena sempat menitipkannya pada episode hidupku yang serba sederhana ini.
Sebelum menjadi puisi untuk anak saya kini, puisi ini sesungguhnya dibuat untuk almarhum dan kawan-kawannya di MUFC beberapa tahun silam, puisi ini adalah harapan saya untuk mereka agar menjadi manusia tangguh dan berani dan terutama memiliki integritas :
Untuk Adikku yang Berani
Dik…
Hidup memang tak pernah adil
Tapi itu tak berarti harus sembunyi dan tak peduli
Jika ia membuatmu terhimpit sakit
Pejamkan mata….bukankah kita hanyalah sebuah titik
Dalam semesta tak bertepi ?
Maka sakit tak kan punya arti
Dik…
Jangan berhenti menari
Dan bermimpi kita bisa terbang tinggi
Jika satu saat kamu jatuh beralas duri
Bolehlah menangis sejenak dan merintih perih…
Tapi berjanjilah tak kan pernah berhenti
Dik…
Tuhan tak pernah izinkan kamu untuk kalah
Sebelum berpeluh darah
Karenanya jangan pernah mundur selangkah
Atau bahkan sekedar bersumpah-serapah, berkeluh-kesah
Hidup memang penuh masalah
Tapi berjanjilah tak kan menyerah
Dik…
Jika aku lebih dulu pergi nanti…
Kamu tak kan (benar-benar) sendiri
Sebab Tuhan selalu menepati janji
Bahwa Ia beserta orang-orang yang berteguh hati
Hanya saja puisi ini terbukti salah di bait terakhir, Dyckalah pergi yang mendahului saya, ajal kadang tak menepati sangkaan.
Selamat jalan Dycka.
Bandung
10 November 2005