Kupinang Jiwamu (2)


Kutulis surat ini kala hati merindui Tuhan

Dan angin semilir menelisik dedauan membelai hati yang sedang rapuh

Aku ingin menua bersamamu

Dan aku ingin kamu melahirkan anak-anaku

anak yang pada mereka kita tanam harapan-harapan

anak-anak yang akan membangun peradaban

Kutulis surat ini kala hati menangis

dan asa berharap tentang masa depan

Tentang masa menjadi tua bersama anak-anak kita kelak

Yang tumbuh kuat bersama zaman

Surat ini kutulis Saat seribu malaikat berebut menitipkan rasa rindu

Untuk mencintai jiwamu

Dan aku terperangkap dalam haru biru mengingatmu

Mengingat cinta dan Pencipta cinta

Aku kosong maka kamu mengisiku dengan harapan

Aku lemah maka kamu akan menguatkanku

Aku lelah maka kamu mengisiku dengan cita-cita

Kamu genapkan cintaku pada Tuhan Pemilik segala cinta dan rahasia cinta

Isteriku, kelak tulang kita akan rapuh dimakan zaman

Sendi-sendipun akan kerap ngilu diserang encok tak berkesudahan

Namun kita cukup gembira jika melihat anak-anak mampu sujud dan ruku

Dan lidahnya basah oleh al-Qur’an

Sedang kita hanya berdua melihatnya duduk di beranda depan

Atau hanya berbaring di peraduan merasakan kelelahan mengarungi hidup

Dan sayup lantunan ayat-ayat suci terdengar di sebelah kamar

Semua itu membuat kita puas

Dan berharap kita berkumpul lagi setelah semua ini usai

|Mohamad Ishaq|

Posted in Gurat | Leave a comment

Renungan Pagi Hari

Dengarkanlah semilir angin membelai daun di saat lelah

Ya Tuhan, aku tak pernah mengira betapa merdu suara angin berdesir menyapa dedaunan

Aku hampir lupa betapa menakjubkannya alam raya meski hanya semilir angin

Disebabkan hiruk pikuk hidup yang membuat sibuk dan lupa

Hampir saja tak pernah ku saksikan lagi indahnya sorotan cahaya surya

menelisik ruang-ruang kosong pepohonan menerpa bumi

Kita hampir saja luput akan keindahan temaram sinarnya

Hanya karena uang, jabatan dan karir yang kita kejar tak habis-habis

Awan berarak yang lucu membentuk gambar-gambar

Gemintang yang membentuk pola apa saja yang kita inginkan

Suara gemericik sungai yang menenangkan jiwa

hijaunya pepohonan yang kita pandang dari atas bukit

Hampir saja hidup membuat hati kita mati

Tiada makna yang hadir pada jiwa

Dan tiada jiwa yang hadir pada makna

Tiadalah ilmu yang hadir dari Tuhan yang membicarakan kebajikan

“Ilmu” hanya melahirkan rasa marah rasa dengki

Semua tentang uang, popularitas dan bagaimana meninggikan nama

“Ilmu” tak bisa lagi disebut ilmu

Entah apa ia namanya

al-faqir ila rahmatirabbihi

Ishaq

Posted in Gurat | Leave a comment

D.y.c.k.a : In Memoriam

Nama Dycka (Hadi  Qayumi), begitu ia ingin disebut, barangkali tak berarti apa-apa buat banyak orang, ia bukan tokoh publik, bukan selebritis, atau orang terkenal, ia hanya seorang remaja biasa. Wafatnya tak diiringi banyak pelawat, dan mungkin tak banyak pula orang berdoa dan berduka karenanya. Tapi ia adalah Dycka, wafatnya bagaimanapun telah meninggalkan ruang kosong dalam hati saya, sebab saya sangat mencintainya, seperti halnya cinta pada saudara kandung sendiri. Saya pernah ditinggal wafat dua saudara kandung yang saya cintai, namun wafatnya Dycka tidak hanya meninggalkan luka dan memaksa saya merenung tentang kematian, tapi juga mengajak berfikir tentang perjalanan da’wah yang mungkin nampak remeh di mata orang, da’wah pada sebuah masjid yang sederhana, untuk orang-orang sederhana. Sebuah awal mula perjalanan da’wah saya.

Ia beranjak dewasa bersama kedewasaan saya, ia adalah salah satu lahan da’wah ketika saya belajar menjalaninya, hingga saat ini, ketika da’wah sudah menyentuh lebih banyak orang dan membahas hal-hal berat dan rumit. Dahulu Dycka adalah tanaman tempat saya sempat mencurahkan cinta dan persahabatan begitu dalam. Cinta dan persahabatan seorang kakak yang melihat bayangan masa lalunya dalam cermin-hidup seorang remaja “nakal”  nan lemah berpenyakit asma.

Dycka memang anak dengan setumpuk masalah, yang tak hanya harus bergulat dengan sesak asmanya, ia juga harus bergulat untuk hidup tanpa kasih-sayang seorang ibu kandung. Ia harus menghadapi gejolak remaja seorang diri dan berdekatan dengan banyak bahaya  kehidupan.  Namun Dycka adalah sosok unik dengan banyak kelebihan, dan itulah mengapa saya dahulu sangat berharap banyak padanya saat mengorganisir adik-adik remaja masjid. Tubuhnya yang ‘kerempeng’ dan bermata sayu sangat kontras dengan pribadinya yang supel, mampu mengorganisir banyak teman sebayanya dengan mudah, meski terbilang nakal namun pribadinya kuat dan jiwanya hidup. Dahulu, jika saya ingin mengumpulkan 15 anak-anak MUFC (Muhajirin Football Club, sebuah klub sepakbola remaja di masjid kami) yang mungkin terkesan ‘liar’, saya cukup mengangkat telpon dan meminta Dycka melakukannya, maka hampir dapat dipastikan sebagian besar anak MUFC terkumpul pada waktunya.

Dycka adalah juga pribadi yang mau ‘belajar’, bahkan saya mengamati sifat ‘ingin tahu’nya sejak usia sekolah dasar. Banyak bertanya diselingi berfikir adalah gayanya yang tak bisa saya lupakan hingga kini. Ia ingin mengetahui terlalu banyak hal untuk usia sebayanya, bermain gitar, mahir komputer, hacking, ngeband, namun juga berhasrat ingin menghafal juz amma, meski tak pernah berhasil.

Ia juga seorang ‘renegade’, pemberontak-kecil, pemberani yang menganggetkan orang yang tak kenal baik dirinya, cerita boykot pada sebuah acara rihlah, mungkin salah satu sifat pemberontaknya. Contoh lainnya ketika Dycka ‘berani’  melakukan aksi “carding” lewat internet, meski aksi ini akhirnya ditinggalkannya karena saya sebut perbuatan“carding” tak ada bedanya dengan “maling”. Ia juga Dycka, yang nekat “mogok” untuk sekolah selama satu tahun.

Pada saat yang sama, ia juga orang yang selalu paling bersemangat untuk i’tikaf menjelang akhir Ramadhan, hasratnya tinggi untuk mengejar laylat al-qadr di malam-malam ganjil dengan tilawah dan shalat malam di masjid, meski lebih banyak diselingi senda-gurau sesamanya. Ketika ditanya kenapa, Dycka hanya menjawab “takut masuk neraka”.

Pada Ramadhan  tahun 2004 lalu, karena tak ada lagi kakak ikhwan yang dikenalinya di Masjid, ia menghubungi saya lewat telpon dan menawarkan diri untuk bantu-bantu meramaikan kegiatan Kalam (sebuah organisasi kepemudaan masjid) untuk Ramadhan tanpa diminta. Dycka memang pribadi yang sangat senang membantu, bahkan komputer yang sedang saya pakai untuk menulis “kenangan” ini pun dibeli atas bantuannya, sehingga bisa diperoleh dengan harga lebih murah dari seharusnya.

Meski begitu,  rasa ‘ingin-tahu’ yang tinggi itu pulalah Dycka terkesan bengal. Yang jelas ia selalu membuat Pak Soepomo  ayahanya, sangat khawatir, hingga sering berpesan dan menitipkannya kepada kami. Membina remaja sepertinya memang butuh seni tersendiri, ‘fiqih’ da’wah yang khusus dan mungkin tak ada dalam “Fiqhud Da’wah” Mustafa Masyhur atau Mohammad Natsir, fiqih da’wah yang hanya bisa kita baca dengan interaksi, perhatian dan kasih sayang. Ia mungkin tak luluh dengan mentoring atau liqo’, namun dengan pengakuan keberadaan dirinya dan menghormatinya sebagai subyek hidup dan bukan obyek yang kita bentuk semata.

Dycka atau orang-orang sepertinya adalah air yang hanya mungkin bisa kita arahkan alurnya, namun tak mungkin membendungnya. Ia ingin memahat sejarahnya sendiri, meniti jalannya. Memaksanya hanya akan mematahkannya dan berbuah ketidakhormatan pada diri kita dan ketidakpatuhan pada kebaikan yang kita hendak tanam. Kita hanya menunjukkan peta, namun merekalah yang menyusuri jalan sebenarnya.

Betapa kita mesti bersabar saat semua perhatian kita berikan, ia tetap saja terbawa arus pergaulan, nongkrong di ujung gang sambil merokok, meski malu-malu. Ia tetap saja berkumpul dengan mereka yang menyebut diri “para junkies” dengan celana tanggung kedodoran dan rambut ala Blink 41.

Ketika berinteraksi dengan Dycka dan adik-adik MUFC lain, saya merasakan ada kebenaran pada puisi Kahlil Gibran, bahwa anakmu bukanlah milikmu, namun ia anak-anak kehidupan.

Your children are not your children. They are the sons and daughters of Life’s longing for itself. They come through you but not from you, And though they are with you, yet they belong not to you. You may give them your love but not your thoughts. For they have their own thoughts. You may house their bodies but not their souls,

Ketika menghadiahkan buku “A Child Call It”   beberapa tahun lalu, saya mengharapkan pribadinya agar sekuat Dave Pelzer dalam memaknai derita fisik dan kesedihan batin, sebelum mulai meneladani pribadi Nabi SAW.

Saat kami membina Dycka dan anak-anak remaja MUFC dalam aktivitas remaja masjid seperti: klub bola, ngeliwet bersama, mabit, out-bond training, paket dhuafa, sunduq salam, baksos ke Papandayan, peduli Palestina, rihlah dll, sesungguhnya kami tak mengharapkan  terlalu banyak dari mereka, sehingga harus menjadi kader da’wah atau sebutan
“aktivis Islam” yang nampak mentereng, namun betul-betul sekadar menanam benih-benih integritas, kejujuran dan keberanian, agar dapat memaknai hidupnya kelak.

Lama tak jumpa, berita mengagetkan melalui pesan singkat itupun memaksa saya menjadi lelaki cengeng, saya tak kuasa membendung air mata. Dycka menuntaskan perjalanan hidupnya lebih dahulu. Ia wafat begitu muda, Allah memanggilnya melalui penyakit asmanya yang kian parah.

Sejak kepindahannya ke Jl. Muhammad Yunus Pajajaran, kami memang jarang berkomunikasi kecuali lewat telpon dan sms, namun terakhir kali bertemu,  dua hari setelah idul Fitri kemarin, atau beberapa hari menjelang wafatnya. Dycka sempat berkunjung bersilaturahim ke rumah sambil mengembalikan buku terakhir yang sempat dipinjamnya : “Muhammad Sebuah Biografi Kritis” karya Karen Armstrong. Almarhum juga meminta maaf atas segala kesalahannya juga mohon do’a karena bercita-cita hendak melanjutkan kuliah di Sastra UNPAD, atau di UI sambil berpamitan jika sekiranya harus kost di Jatinangor atau Jakarta. Saat terakhir kali berbincang, saya merasakan kedewasaan mulai tertanam dalam jiwanya dan benih-benih tanggung jawab terhadap hidup mulai nampak dalam pembicaraanya.

Menurut istri saya kira-kira dua hari setelah kunjungannya, almarhum Dycka menelpon dan bertitip pesan ingin bertemu, namun begitulah maut memutus segala hal yang ingin kita rencanakan. Pertemuan itu tak sempat terlaksana karena Allah lebih dahulu memanggilnya, dan ajal memang selalu menepati janjinya.

Kematian orang-orang terdekat kita dan yang kita cintai selalu saja menoreh perih dalam hati, menyumbat asa tak percaya. Namun sesungguhnya ia adalah nasehat untuk hidup kita, yang sering lupa pada kampung halaman sebenarnya, dan bahwa hari-hari kita terlalu banyak dihabiskan untuk mengejar hal yang sedikit dan sesaat dan tak bermakna banyak. Ketika Al-Ghazali dimintai nasehat, beliau menjawab singkat, bahwa cukuplah al-Quran dan kematian sebagai sebaik-baik nasihat.

Kematian orang-orang terdekat kita dan yang kita cintai, adalah juga nasehat untuk sebanyak mungkin menuliskan cinta dan perbuatan baik pada sebanyak mungkin orang, karena hidup ini memang begitu singkat, sekejap mata, atau bahkan lebih cepat dari itu. Untuk itu bersiaplah bahwa ia bagaimanapun akan mendatangi kita.

Saat berta’ziah ke Jl. Pajajaran,  ada kabar kalau suara takbir Dycka terdengar neneknya sebelum ajal ‘tiba-tiba’ menghampirinya pada pukul 10 pagi. Jika benar, semoga saja, takbir ini adalah pekik takbir yang biasa diajarkan kakak dan teteh-nya di masjid saat masa-masa rihlah dulu.

Dycka, kamu adalah cerita indah dalam balutan da’wah kami, terima kasih Allah karena sempat menitipkannya pada episode hidupku  yang serba sederhana ini.

Sebelum menjadi puisi untuk anak saya kini, puisi ini sesungguhnya dibuat untuk almarhum dan kawan-kawannya di MUFC beberapa tahun silam, puisi ini adalah harapan saya untuk mereka agar menjadi manusia tangguh dan berani dan terutama memiliki integritas :

 

Untuk Adikku yang Berani

 

Dik…

Hidup memang tak pernah adil

Tapi itu tak berarti harus sembunyi dan tak peduli

Jika ia membuatmu terhimpit sakit

Pejamkan mata….bukankah kita hanyalah sebuah titik

Dalam semesta tak bertepi ?

Maka sakit tak kan punya arti

 

Dik…

Jangan berhenti menari

Dan bermimpi kita bisa terbang tinggi

Jika satu saat kamu jatuh beralas duri

Bolehlah  menangis sejenak dan merintih perih…

Tapi berjanjilah tak kan pernah berhenti

 

Dik…

Tuhan tak pernah izinkan kamu untuk kalah

Sebelum berpeluh darah

Karenanya jangan pernah mundur selangkah

Atau bahkan  sekedar bersumpah-serapah, berkeluh-kesah

Hidup memang penuh masalah

Tapi berjanjilah tak kan menyerah

 

Dik…

Jika aku lebih dulu pergi nanti…

Kamu tak kan (benar-benar) sendiri

Sebab Tuhan selalu menepati janji

Bahwa Ia beserta orang-orang yang berteguh hati

 

Hanya saja puisi ini terbukti salah di bait terakhir, Dyckalah pergi yang mendahului saya, ajal kadang tak menepati sangkaan.

Selamat jalan Dycka.

Bandung

10  November 2005

Posted in Tafakkur | 2 Comments

Yang Ada Dalam Hati Kekasih

Sekiranya Engkau semakin cinta padaku meski semua makhluk membenciku

Andai bisa kurawat seluruh hakMu meski terbengkalai hakku dari makhluk

Kalau saja Engkau merasa rela meski tak seorangpun puas

Ingin Engkau tersenyum meski wajah seluruh manusia muram

Sekiranya Engkau menatap meski selainMu membelakangi

Asal saja Engkau senang meski manusia membenci

Cukup Engkau meski yang lain merasa kurang

Ingin Engkau senang meski selainMu marah

Asal Engkau menerima, meski selainMu menolak

Asal Engkau menemani, meski selainMu meninggalkan

Ingin Engkau merawat meski selainMu membiarkan

Cukup Engkau memberi harapan, meski selainMu menutup pintu

Demikianlah barangkali yang ada dalam hati para kekasih Allah, yang kita belum lagi menjadi bagian dari mereka, meski kita mencintai mereka.

Posted in Gurat | Leave a comment

ADAB MENEMPATKAN DIRI

Salah satu adab dalam keilmuan adalah mengetahui posisi kita berada dalam level mana. Para ulama membedakan tingkatan keilmuan menjadi muqallid (pengikut), mujtahid fatwa, mujtahid tarjih, mujtahid muqayyad, mujtahid ghayr muthlaq, dan mujtahid mutlhaq. Syaikh Muhammad Abu Zahrah membaginya dengan istilah lain: Mujahid Mustaqil, Mujahid Muntasib, Mujtahid Madzhab, Mujtahid Murajjih, Mujtahid Muwwazin. Kekacauan terjadi jika masing-masing tidak mengetahui tempatnya, seorang yang masih muqallid jika sudah taqlid dengan suatu fatwa janganlah merasa seperti seorang mujtahid dengan memfatwakan ini dan itu dan memaksakan pendapat pada yang masih muqallid lainnya, dan kemudian terlibat perdebatan yang menjurus pertengkaran, terlebih lagi jika ia seorang muqallid (yang taklid karena kekurangan ilmu). Bahkan muqallid pun terbagi tingkatannya ada yang muhaffidz dan muqallid, sebagian ulama lain membaginya menjadi muqallid muttabi’ dan muqallid ‘ammi.

Inilah adab dalam keilmuan yang diajarkan oleh tradisi keilmuan Islam. Bahkan saudaraku, para ulama saja masih mengakhiri dengan kata-kata penuh ketawadhuan: “Wallahu a’lam bishawab” dalam karya mereka yang sudah dilakukan dengan seluruh kemampuan mereka dan kerja kerasnya. Sedangkan diri kita, yang masih belajar hal-hal dasar, bahasa Arab pun barangkali masih buta, begitu ponggahnya meski hanya sekadar copy-paste sebuah artikel dalam situs. Tidak ada kethawadhuan dan tidak ada kekhawatiran bahwa barangkali ada kebenaran pada diri mereka, dan ada kekliruan pada diri kita. Termasuk pada saat-saat seperti ini, di mana terjadi perbedaan pendapat dalam penentuan 1 Syawwal. Semua orang rasanya sudah menjadi qadhi dan mufti. Tentu hal ini tidak bermaksud menutup ruang diskusi dan berpendapat. Namun membuat kegaduhan dan perdebatan yang tanpa adab, justru menambah masalah baru. Adakalanya sikap diam dari orang-orang awam justru lebih membawa maslahat. Tentu orang-orang yang masih taraf belajar seperti kita dituntut untuk senantiasa belajar untuk menaikkan kapasitas keilmuannya sesuai dengan potensi masing-masing, namun sepanjang perjalanan menuntut ilmu itu ada adab-adab yang harus dijaga senantiasa. Benar sekali apa yang dikatakan Prof. Syed Naquib Al-Attas, bahwa adab adalah sebuah disiplin jiwa, Adab adalah displin tubuh, jiwa dan ruh; disiplin yang menegaskan pengenalan dan pengakuan tempat yang tepat dalam hubungannya dengan kemampuan dan potensi jasmaniah, intelektual dan ruhaniah juga termasuk disiplin lisan. Dengan adab pula di mana kita bisa menempatkan lisan: lebih baik bicara atau lebih baik diam.

Waktu saya mengaji ihya’ ulumiddin, banyak sekali kisah para mujtahid sejati yang membuat saya malu pada diri sendiri, kadang tercekat tenggorokan kami karena menahan  tangis betapa banyak akhlaq saya yang buruk padahal diri ini masihlah penuntut ilmu. Salah satu kisahnya adalah kisah seorang Imam Mujtahid Muthlaq Asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala; “Imam Asy-Syafii ditanya mengenai suatu masalah namun beliau diam saja, ketika ditanya lagi, mengapa anda diam saja, semoga Allah memberikan rahmatNya kepada anda”, kemudian al-Imam menjawab, “Saya sedang berfikir, sehingga saya bisa mengetahui mana yang lebih baik apakah diam atau memberikan jawaban”

Imam al-Ghazali rahimahullah kemudian menasihati kita, “lihatlah Imam Asy-Syafii rahimahullah ia tidak berkata atau diam kecuali untuk meraih keutaman, kebaikan dan pahala” Kisah Mujtahid lain adalah guru dari Imam asy-Syafii rahimahullah, Imam al-Malik rahimahullah bintangnya ulama, ketika Imam Asy-Syafii bertanya kepada gurunya 48 persoalan, Imam Malik rahimahullah menjawab 32 persoalan dengan jawaban “Saya Tidak Tahu”. Betapa luhur dan tawadhu akhlaq mereka.

Kisah mujtahid lain adalah Imam Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau ditawari jabatan sebagai hakim, beliau berkata “Saya tidak patut menerima ini”, kemudian ia ditanya “mengapa?” Beliau menjawab: “Bila saya jujur pada pernyataan saya ini (bahwa saya tidak pantas), maka memang saya tidak patut, namun jika saya berbohong, (tentu) saya lebih tidak patut”. Subhanallah, lihatlah bagaimana Imam Abu Hanifah berusaha menempatkan diri pada tempatnya, betapapun kita tahu beliau adalah seorang Mujtahid besar.

Lain lagi kisah Imam Ahmad radhiyallahu anhu, Ketika al-Imam menghadiri sebuah ta’lim, beberapa muridnya telah menyiapkan karpet dan bantal untuk beliau duduk. Imam Ahmad bertanya, ”Kenapa kalian perlakukan aku seperti ini? Singkirkan karpet dan bantal ini.” Dan, beliau merasa lebih nyaman duduk di atas tanah seperti hadirin yang lain. Subhanallah, betapa tawadhunya beliau.

Saya ingin menambahkan suatu akhlaq para shabat Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam dalam masalh perbedaan furu’, saya ingat membaca kisah ini pertama kali di sebuahbuku sudah lama sekali, ada suatu peristiwa dimana Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu merasa tidak senang ketika mendengar Khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu shalat Dhuhur dan Ashar tanpa qashar padahal sedang safar di Mina. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu menganggap Utsman radhiyallahu ‘anhu telah meninggalkan sunnah Rasulullah shallallhu ‘alayhi wasallam. Tetapi, ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu shalat berjamaah di Mina di belakang Utsman radhiyallahu ‘anhu, beliau justru shalat seperti shalatnya Utsman radhiyallahu ‘anhu. kemudian ketika orang mempertanyakan, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,”Bertengkar itu semuanya jelek!”

Mereka inilah para Mujtahid sejati, yang kemujtahidannya bukan saja pada dalil dan hujjah, namun juga akhlaq dan adabnya menunjukkan kualitas seorang mujtahid, semoga Allah meridhai mereka dan semoga kita bisa meneladani akhlaq mereka. Aamiin

Posted in Tafakkur | 6 Comments

Belajar Ilmu Tawakkal

I’qil fatawakkal, sebuah ungkapan hadits yang begitu kita kenal. Begitulah baginda Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam mengajarkan makna tawakkal kepada salah seorang sahabat ketika ia ditanya di mana untamu? Saya membiarkannya di luar dan saya bertawakkal. Namun baginda shallallahu ‘alayhi wasallam menjawab : “I’qil fatawakkal”, ikatlah dulu ikatannya kemudian baru bertawakkal.

Setelah mengalami beberapa pengalaman dan merenungi makna tawakkal (yang sebenarnya lebih tepat disebut tawakkul), saya mulai memahami makna tawakkal, ia adalah sebuah keadaan kepasrahan total, sebuah keyakinan bahwa tidak ada yang mampu memberikan manfaat atau mudharat melainkan Allah azza wa jalla. Kemudian, terbersit suatu pertanyaan : Kalau demikian di manakah posisi usaha dalam sikap tawakkal? Usaha atau tepatnya disebut ikhtiyar kita harus lakukan sebagai bentuk adab kepada Allah, namun usaha tersebut pada hakikatnya bukan penyebab dari datangnya manfaat dan mudharat yang terjadi kemudian. Jadi pada hakikatnya Allah tidak memerlukan usaha kita untuk menghendaki sesuatu itu terjadi atau tidak. Usaha kita adalah suatu bentuk adab kepada Allah.

Ketika kita menginginkan sesuatu atau tidak menginginkan sesuatu terjadi pada diri kita, maka sebagai bentuk adab kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita diwajibkan ikhtiyar, karena jika kita berpangku tangan dan hanya menyerahkan segala masalah kepada Allah tanpa berikhtiyar, maka hal tersebut adalah suatu perbuatan yang tidak beradab di hadapan Allah. Mengapa demikian? Sebab dengan perilaku seperti itu, pada dasarnya kita telah memperlakukan Allah sebagai zat yang kita perintah, kita memperlakukan Allah layaknya pesuruh dan pembantu (khadimah). Padahal tentu tidaklah demikian hubungan yang beradab antara hamba dengan Allah azza wa Jalla. Di sinilah ikhtiyar berperan sebagai bentuk adab kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kemudian Allah akan menilai ikhtiyar kita itu dan memberikan yang terbaik menurut penilaian Allah subhanahu wa Ta’ala bagi dunia kita, bagi akhirat kita. Meskipun kadang keputusan Allah itu kita pandang sebagai sesuatu yang sulit kita terima. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu (al-Qur’an)

Saya teringat sebuah hadits atau atsar, di mana ada seorang hamba yang meminta dinar, namun Allah tidak mengabulkannya, ia meminta dirham dan Allah tidak mengabulkannya. Namun jika ia meminta Surga Allah pasti mengabulkannya, sebab Allah mengetahui mana yang lebih baik bagi dirinya. Ini menunjukkan bahwa keterbatasan kita memahami hikmah menyebabkan kita sering memandang keadilan Allah sebagai suatu kezaliman. Hal ini terjadi karena kita menimbangnya dengan timbangan ego diri kita.

Lalu apakah ikhtiyar itu? Saya dijari oleh guru-guru saya, bahwa ikhtiyar sangat berkaitan dengan khayr (kebaikan). Ia di namakan ikhtiyar selama dilakukan dalam koridor khayr. Dan khayr disebut khayr jika ia berada dalam koridor syari’at dan ma’ruf. Ini penting, sebab usaha yang maksimal belum tentu bisa disebut ikhtiyar, dan demikian sebaliknya. Sebagai contoh seorang mahasiswa yang melakukan usaha maksimal untuk menghadapi suatu ujian dengan belajar tanpa henti, namun dengannya shalat menjadi terlambat dan dikerjakan dengan sangat seadanya, ia lupa bermunajat kepada Allah, ia mengabaikan hak-hak Allah, ia mengabaikan ilmu-ilmu fardhu ‘ayn, maka ini mungkin suatu usaha maksimal menurut penilaian manusia, namun bukan ikhtiyar yang hakiki. Sebab ikhtiyar adalah usaha maksimal yang dilakukan dengan tetap merawat hak-hak Allah (ri’ayah li huquqillah). Usaha maksimal boleh jadi menghasilkan hasil yang baik menurut kita, namun usaha dalam bentuk ikhtiyar dan kemudian bertawakkal pasti menghasilkan yang terbaik dalam pandangan Allah, meski kadang tidak sesuai dengan harapan kita.

Tawakkal, di sisi yang lain adalah sebuah keadaan jiwa di mana kita meyakini bahwa manfaat dan mudharat tidak terjadi kecuali karena Allah. Sebagai contoh, ketika seorang berusaha berikhtiyar mencari nafkah untuk keluarga dengan berdagang pada suatu hari misalnya, maka penyebab datangnya rizki itu bukanlah karena pelanggan yang membeli barang dagangan, demikian juga terhambatnya rizki itu bukan tiadanya pembeli. Tapi adalah keputusan Allah padanya pada hari itu, dan itu adalah yang terbaik bagi dirinya. Jika dalam jiwa kita masih terbersit kekecewaan karena tidak adanya pembeli, maka hakikatnya kita belum bertawakkal dengan sempurna. Demikian sebaliknya, jika kita meyakini bahwa datangnya rezeki karena para pembeli dan kita lupa bahwa Allah lah pada hakikatnya yang mengantarkan rezeki tersebut. Maka kita belum bertawakkal. Tentu perlu ditekankan di sini, bahwa tawakkal adalah amaliah hati, dalam dimensi luaran tentu kita berikhtiyar menyenangkan para pembeli, bersikap ramah, bersikap jujur , dan lain-lain agar pembeli datang. Barangkali inilah salah satu makna sebuah hadith ketika Nabi Shallallhu ‘alayhi wa Sallam menasihat Ibn Abbas radhiyallahu anhu:

Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah, niscaya dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu , niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.

 Dengan sikap tawakkal, seorang mu’min senantiasa tenang dalam menyikap setiap masalah, sebab ia tahu bahwa ia sedang mewakilkan urusannya kepada Zat yang Maha Bijaksana, Maha Mengatahui, Maha Adil, dan Maha Baik dan tahu yang terbaik bagi dunia dan akhirat kita sekaligus.

Karenanya seorang mu’min yang terkena suatu musibah, bolehlah  menangis sejenak dan merintih perih, namun ia harus segera menyadari bahwa jika ia bertawakkal, maka ia dalam perawatan dan perlindungan Allah, dan kekasih tidak pernah menyakiti kekasihnya, sebagaimana Allah tidak pernah mengecewakan dan menyakiti hamba yang dicintainya.

Posted in Tafakkur | Leave a comment

Pada Setiap Tetes Air Mata

Bagi setiap tetes air mata Allah ada
Untuk setiap gelisah Allah dekat
Kepada setiap lirih Allah menemani
Pada setiap perih Allah hadir

Dia tetap sabar meski kita berontak
Dia menunggu meski kita menjauh
Dia memberi kesempatan walau kita gagal
Dia mengerti meski kita berlari

Allah selalu membalas setiap cinta
Selalu menyambut setiap rindu
Tak pernah menolak setiap taubat
Menerima dengan senang setiap yang ingin pulang

Maha Mendengar setiap pinta
Maha Mengerti setiap ingin
Maha Memahami setiap sulit
Maha Meringankan setiap beban

Pada setiap sabar dan kesempatan untuk bersabar
Allah menyediakan derajat kemuliaan
Pada setiap syukur dan kesempatan untuk bersyukur
Allah menyediakan derajat keagungan

Jadikan Dia sedekat-dekat Penyerta, sebesar-besar tempat berharap, seaman-aman Tempat berlindung, sebenar-benar Tempat melabuhkan cinta.

Mohamad Ishaq, Ramadhan, 1432 H

Posted in Gurat | Leave a comment